MENULIS OPINI

JIKA CORONA DATANG DAN PERGI

(Dwi Rukmi Endang Sudaryati)*

 

Di tengah hiruk-pikuk melawan pandemic Covid-19, sejenak terlintas refleksi diri, kapan pandemic Covid-19 ini akan berakhir, bagaimana jika Corona datang dan pergi kapan saja?

Sementara ini kita disibukkan berbagai aktivitas bagaimana memutus rantai pandemic Covid-19. Berbagai kebijakan dibuat seiring merebaknya virus ini, antara lain kebijakan berupa peraturan tentang lockdown, mudik, beribadah, tempat umum, transportasi, sampai dengan memindah pembelajaran di sekolah dengan metode on line atau dalam jaringan.

Kita harus objektif, bahwa hadirnya Corona Virus Disease 2019 yang selanjutnya disebut Covid-19 ini tidak semuanya berdampak negatif, tetapi juga ada  sisi positifnya, antara lain mampu menuntaskan tercapainya tujuan pendidikan karakter bangsa. Kehadiran Corona mengubah pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebelum Covid-19 datang budaya cuci tangan dengan sabun pada air mengalir, memakai masker dan alat pelindung diri (APD) hanya milik orang tertentu, tetapi sekarang menjadi membudaya di seluruh pelosok tanah air, bahkan dunia. Selain itu semua orang mengakui kekuasaan Allah Tuhan Yang Maha Esa. Terbukti orang menjadi taat beribadah, rajin berdoa memohon perlindungan, dan dijauhkan dari marabahaya. Ini berarti menuntaskan nilai karakter religius. Berikutnya berkembang pesat nilai gotongroyong yaitu saling membantu, dan peduli kepada sesama yang mengalami penderitaan dengan ikhlas. Berlomba mengumpulkan amal ibadah sebesar-besarnya, seakan tahu kalau besok atau lusa akan meninggal dunia.

Orangtua banyak memiliki waktu di rumah untuk menegakkan disiplin dan kerja keras, misalnya menemani belajar, menumbuhkan budi pekerti luhur, menjalin cinta dan kasih sayang dengan keluarga. Setiap keluar rumah dan bepergian selalu mengikuti protokol kesehatan. Luar biasa peningkatan nilai pendidikan karakter, bahkan boleh dikata menuntaskan pendidikan karakter bangsa.

Sementara itu, dari sisi negatif hadirnya Covid-19 adalah dapat mematikan manusia dan melumpuhkan aktivitas berbagai sektor yang ada di dunia. Beribu-ribu orang meninggal, ada yang dirawat, diisolasi, dikarantina, dalam pengawasan, dan sebagainya. Berbagai upaya dilakukan demi terhindar dari virus corona, intinya semua orang takut terpapar Covid-19. Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh corona virus yang menyerarang sistem pernafasan.

Dampak negatif hadirnya corona antara lain sekolah melaksanakan pembelajaran di rumah (BDR) yaitu secara daring, semi daring atau luring (offline). Banyak toko ditutup, orang kerja dari rumah, bahkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) dari keluarga, sekolah, instansi, serta RAPBN semua direvisi untuk pencegahan merebaknya virus corona di muka bumi. Ternyata makhluk hidup yang sangat kecil dan tidak terlihat oleh mata  mampu melumpuhkan segala aktivitas di luar rumah, perekonomian dunia, biro transportasi darat, air dan udara.

Setelah kita melakukan refleksi diri sisi positif dan negatif merebaknya Covid-19 ini,  kita kembali ke pertanyan, “Kapan pandemik Covid-19 berakhir, dan bagaimana jika corona datang dan pergi kapan saja?”. Dua hal ini tidak boleh dibiarkan tetapi perlu dicari solusinya. Bangsa yang cerdas akan merumuskan jawaban dari kedua pertanyaan tersebut diatas dari sekarang. Kita semua tidak boleh terlena, hendaknya bersiap sebelum bencana dating lagi, bukannya baru bertindak ketika bencana sudah berlalu. Hal ini tidak semudah orang membalikkan tangan, tetapi menjadi tantangan kita bersama untuk merumuskan solusinya. Antara lain kita harus memiliki sikap antisipatif ke depan, dan bukan hanya tenaga para medis atau instansi terkait yang harus bertindak antisipatif,  tetapi semua warga negara harus bersikap antisipasip jika corona datang kapan saja, sebagaimana pepatah mengatakan, ”Sedia payung sebelum hujan” dan “Bekerjalah kamu seolah-olah kamu akan hidup seribu tahun lagi”. Pepatah ini menginspirasi kita untuk selalu berjaga-jaga seandainya Corona datang dan pergi setiap saat. Untuk itu kita juga harus memiliki nilai integritas yang tinggi, untuk bangkit menegakkan sendi-sendi kehidupan yang sementara ini melemah atau lumpuh. Kita pupuk sikap optimis, tidak panik, selalu menggunakan alat pelindung diri  dalam beraktivitas, waspada dan taat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

*Dwi Rukmi Endang Sudaryati

Pengawas Sekolah Kecamatan Semanu,

Dinas Dikpora Gunungkidul.


Komentar

  1. Corona sudah terjadi kita tinggal menjalani, namun kita harus semangat supaya imun tubuh tetap terjaga. Sebagai pendidik harus mampu untuk malaksanakan tugas semampunya dengan penuh semangat dan gigih dalam berjuang di dunia pendidikan.
    Untuk mendukung tugas, kita harus selalu belajar dan terus belajar!

    BalasHapus
  2. Mantab..mbk endang...sdh padat berisi...karena pengalaman menulis di majalah candra...DIY...

    BalasHapus
  3. Mantab..mbk endang...sdh padat berisi...karena pengalaman menulis di majalah candra...DIY...

    BalasHapus
  4. Semoga corona segera berlalu..agar semua kembali normal..

    BalasHapus
  5. Mantab betul lanjut. Mampir ke cakinin.blogspot.com

    BalasHapus
  6. Banyak hikmah yang bisa kita petik.

    BalasHapus
  7. Betul, memberi kesempatan pada kita untuk menghitung ulang sejauh manakah diri kita bermanfaat bagi orang lain

    BalasHapus
  8. Tetap mengambil hikmah dibalik pandemi. Semoga badai cepat berlalu..Aamiin YRA

    BalasHapus
  9. Bagus bund. Hikmah di balik covid-19 kita bisa lebih mendekatkan diri pada Illaahi, dan dekat pada keluarga.

    BalasHapus
  10. Comen dari Bu Susi, untuk opini ini adalah Is The Best, mengingat isinya padat berisi (karakter komplit)👍👍

    BalasHapus
  11. Kehadiran Corona memberi warna dalam kehidupan kita

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIASAN KULIT BAWANG

MENINGKATKAN PROFESIONAL DENGAN DARING